Kali ini, gua ingin berbagi mengenai tugas kuliah Semester 4 kemarin, mata kuliah Musik Film. Dari namanya aja udah jelas, kalo mata kuliah ini menggabungkan dua bidang yang gua sukai banget. Musik dan Film.
Maka dari itulah, ketika kami diberi tugas untuk membuat score (*akan dijelaskan kemudian), jiwa musikalitas dalam berfilm gua pun menggebu-gebu. Dan tugas pun gua jadiin ajang untuk eksperimen, lebih dari sekedar kewanjiban dan nilai.
*walau demikian, dalam praktiknya, gua ga semenggebu-gebu gitu jg sih ngerjaiinnya. tetep gua undur-undur jg gitu hehehe. namanya juga Deadliner!*
Sebenernya, tugas yang diberikan itu ga terlalu rumit. Kami diminta untuk mengambil cuplikan dari sebuah film, sekitar 3 menitan, untuk di-rescore. Oh iya, proses scoring itu mengacu pada peletakan segala bentuk audio ke dalam film sesuai dengan pertimbangan konsep gitu. Dan musik adalah salah satu unsur audionya. Jadi rescore berarti menyusun ulang unsur audio yang ada sesuai dengan konsep yang kita pinginin gitu. Boleh mempertegas konsep yang udah ada, atau ga bikin konsep yang sama sekali baru.
Jadi ya pencapaian mata kuliah ini di semester itu (?) adalah soal ngonsepin dan gimana mewujudkan konsep sih. Belom sampe teknis bikin score-nya. Oleh karena itu kami diperbolehkan buat nempel musik atau audio yang sudah ada.
Tapi yang namanya suka, maka gua nyoba buat bikin-bikin scorenya sendiri gitu. Dan di sinilah gua nyadar bahwa gua masih harus banyak belajar banget sama yang namanya teknologi. Soal software dan hardware buat bikin musik masih buta banget gua!
Akhirnya, dengan berbekal satu-satunya software musik yang gua bisa, SIBELIUS 7 (*software buat bikin partitur), gua coba bikin deh nih tugas dengan menggebu-gebu, tapi santai.. (?)
This is it...
Oke. Sekarang waktunya penjabaran konsep, biar akademis banget gitu.
1. Sebelum saya (*berubah jadi saya-anda gitu, biar makin akademis banget) rescored, musik dalam film pendek 'For The Birds' tersebut hanya berfungsi sebagai musik ilustrasi. Artinya, musik hanya menjadi pengiring, atas pertimbangan estetika saja, tanpa mengangkat suatu aspek objek score tertentu. Sedangkan dalam konsep saya, musik saya gunakan untuk mengangkat atau mempertegas aspek objek score gerak tokoh dan emosi. Dengan demikian, dramatik juga akan meningkat.
2. Secara umum, musik yang saya buat mempertegas pembagian 'struktur 3 babak' dalam film pendek ini: babak introduksi, babak konflik - klimaks, babak antiklimaks. Setiap babak saya tandai dengan tempo, birama, dan irama yang berbeda. Sebagai contoh, pada babak kedua, ketika para burung terganggu oleh kehadiran si Burung Besar, dan mencoba mengusirnya, saya mengubah tempo jadi lebih cepat, dengan birama 5/4, birama yang memiliki ketukan tanggung yang sangat cocok untuk menggambarkan ketergangguan. (((Si Burung Besar))).
3. Selebihnya, saya menggunakan bahasa musik universal dalam menggambarkan gerak. Contohnya, ketika gerakan burung mendekat, atau terbang meninggi, saya menggunakan nada yang meninggi juga. Dan sebaliknya, ketika gerakan burung adalah menjauh, atau turun, atau jatuh, maka nadanya juga akan turun. Model-model ini banyak saya pelajari dari film kartun fenomenal zaman kita kecil: Tom and Jerry!
Oke. Itu dia penjelasan (sok) akademisnya. Semoga dapat menginspirasi..
* * * * *
Ngomong-ngomong, ada yang punya rekomendasi tempat (les / shortcourse / komunitas / yayasan / panti / apalah..) buat belajar software music production gt ga?
No comments:
Post a Comment