Monday, May 12, 2014

Anti-klise, dan Film Pendek


Satu hal yang harus dihindari dalam membuat film, apapun itu, adalah menampilkan hal-hal yang klise. Klise di sini berarti menggunakan hal-hal yang menjadi stereotype umum. Contohnya, stereotype bahwa ibu tiri itu jahat, malam itu ditandai dengan shot bulan, menggunakan pola penceritaan “ternyata hanya mimpi”, dll. Hal-hal tersebut patut dihindari karena sebagus apapun penggarapannya, film klise hanya akan stuck pada level “menarik ditonton”, tidak akan sampai pada level “patut diingat”.
Dan secara umum, penyebab klise ada dua :
Yang pertama, kurangnya kreativitas dari si pembuat. Kurangnya kreativitas sesungguhnya disebabkan karena kurangnya referensi dalam bagasi otak kita. Hal ini dapat diatasi dengan meningkatkan waktu untuk membaca dan menonton film, berbagai genre.
Yang kedua, dan yang cukup terutama, adalah adanya miskonsepsi masyarakat akan apa itu film pendek. Masyarakat umum, khususnya di Indonesia, lahir dalam referensi berupa film panjang ataupun serial. Sehingga masyarakat Indonesia kebanyakan menggunakan acuan tersebut dalam membuat film pendek. Yang terjadi adalah film pendek yang dihasilkan berupa film panjang yang durasinya dipendekkan. Cerita yang dibuat cenderung terlalu kompleks, tapi kurang mendalam. Akibatnya film pendek yang dihasilkan pun kurang bermakna baik secara keseluruhan, maupun shot by shot.
Struktur dalam film pendek, secara general dapat dibagi 2, yakni joke’s structure dan struktur 3 babak. Pada Joke’s Structure, struktur yang dipakai mirip dengan struktur yang dipakai dalam menyampaikan materi stand up comedy, yakni build up and pay off. Pada build up, permasalah dibangun dan dikembangkan, sehingga penonton cukup bertanya-tanya tentang bagaimana ending film tersebut. Sedangkan pada pay off, penantian penonton tersebut dibayar dengan sebuah ending yang layak ditunggu.
Sedangkan pada struktur tiga babak, sesungguhnya struktur ini mirip yang digunakan pada film panjang dengan Struktur Hollywood Klasik. Namun yang perlu diperhatikan adalah dalam film pendek, konflik yang disajikan cukuplah satu buah saja. Penonton tidak usah dipusingkan dengan hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan konflik tersebut, seperti siapa nama tokoh utama tersebut, bagaimana latar belakangnya, dll. Penonton dapat langsung dibawa pada bagian pengenalan masalah.
Dan pada akhirnya, pilihan ingin menggunakan struktur tiga babak atau joke’s structure kembali pada selera pribadi. Tak ada yang lebih baik, selama keduanya dikemas dengan tidak klise. Seperti kata mas Armantono, dosen Skenario FFTV IKJ, “Manusia digigit anjing itu klise. Anjing digigit manusia baru tidak klise!”


*P.S. Ini adalah tugas mata kuliah penyutradaraan. Disuruh merangkum dan menulis ulang diktat mengengai film pendek gitu. Trus dipost aja deh, buat menuh-menuhin blog.*