Adi dan anak buahnya sudah bersiap di posisinya masing-masing. Menurut
perhitungannya, truk pembawa berbagai perhiasan batu kuno, yang tentu saja
bernilai tinggi, akan lewat sepuluh menit lagi. Ya, beberapa hari lagi akan
diadakan pelelangan.
23.54
Truk datang. Lebih cepat 1 menit. Dengan sigap Adi mengatur ritme
perampokan agar tetap sesuai pada rencana. Empat orang pada ‘pengalih
perhatian’, empat orang ‘pembobolan’, dan dirinya pada ‘penadah’. Semua berlalu
cepat, namun senyap.
23.59
Lima menit, sesuai rencana. Muatan berharga tersebut sudah di tangan Adi
dengan tanpa disadari oleh sang supir. Adi tersenyum puas.
07.00, esoknya
Adi menyalakan televisi, mencari berita tentang perampokan yang ia
lakukan semalam. Memang baginya merampok adalah soal prestige, tanpa kekerasan fisik, tanpa darah. Namun mendadak ia
marah dan berteriak, “Bangsat! Media goblok!”.
Terlihat di layar, tajuk berita kala itu, “Kembali Terjadi, Kini Sebuah
Truk Pembawa Perhiasan Kunolah yang Dibegal”.
-Parikesit-
Cempaka Baru, 12 Maret 2015
* * *
Cerpen tersebut dibuat ketika waktu itu perbegalan menjadi hal yang paling seksi untuk berada di panggung media di Indonesia. "Bad thing is a good thing" nampaknya dipegang teguh oleh para awak media tersebut, entah atas dasar pengalihan isu, atau murni karena tak ada stok berita lagi. Kata 'begal' hampir pasti bisa dijumpai di setiap tayangan berita atau surat kabar kala itu. Sedikit - sedikit begal. Sedikit - sedikit begal. Begal kok cuman sedikit? Eaaaa.
Kedutaan Besar Indonesia di planet tersebut sedang melangsungkan upacara pengibaran bendera dalam rangka HUT RI yang ke-270, dengan dihadiri tamu undangan dari planet sahabat. Lagu Indonesia Raya pun bergema dengan khidmat hingga terdengar ke seantero galaxi.
* * *
Ya mungkin ini mimpi gua aja, bayangin eksistensi Indonesia bisa diakui sampe oleh penduduk planet2 lain juga.
Ya mungkin ini mimpi gua aja, bayangin Indonesia menjadi negara yg cukup penting dalam proyek migrasi ke Kepler, sampe punya previlege buat nyelenggarain upacara bendera di sana.
Ya mungkin ini mimpi gua aja, ketika gua sadar bahwa sekarang aja rakyat Indonesia sendiri, termasuk gua, seringkali lebih bangga sama negara lain di banding negara sendiri.
Ya mungkin ini mimpi gua aja, gara-gara akhir-akhir ini gua kebanyakan nonton film science fiction.
Eh, tapi 200 taun lagi, masa sih mimpi gua ga bisa kesampean?
* * *
Ini adalah komik strip pertama gua, yang gua dedikasiin buat HUT RI ke-70. Selain di Blog, ini juga gua post di Instagram gua gitu, dengan caption yg sama. Hmmmm, dan entah kenapa, setelah gua baca-baca lagi, sepertinya captionnya bernada blue banget gitu ya. Hahaha.
Sebenernya, coret-coretan, yang cukup niat, ini terlahir gara-gara akhir-akhir ini gua emang lagi sering nonton film-film science-fiction. Terus kebayang deh, kayaknya asik juga tuh kalo upacara benderanya di luar angkasa. Terus dihubung-hubungin sama planet Kepler temuan NASA yang lagi hitz itu deh. Jadi gini hasilnya.. :)
Ya semoga aja ini jadi stimulus bawah sadar buat yang baca postingan ini, bahwasanya Indonesia masih bisa terus tumbuh kok. Bahwasanya Indonesia jangan kita batesin cuman segini-gini aja gitu. Bahwasanya merdeka itu ya termasuk merdeka dari batasan-batasan yang kita buat sendiri gitu. Ya. Gitu.
Orang yang masih berpegang pada pepatah “don’t judge a book by its cover” adalah orang yang, pasti, tidak pernah
benar-benar membeli buku.
Kali ini
saya akan memberi label antitesis dalam tulisan saya. Dalam label antitesis ini,
saya akan mencoba membedah lagi tesis / statement
/ teori / bahkan quote yang sudah ada,
dari sudut pandang yang lain. Apakah teori tersebut masih relevan? Apakah teori
tersebut benar-benar bisa dilandaskan dalam dunia yang real?
Nah, seperti
yang tertera pada kalimat pembuka, saya ingin mengkritisi perihal pepatah / quote: “don’t judge a book by its cover”. Dalam aplikasinya, quote ini ingin mengingatkan kita bahwa
kita tidak boleh menilai seseorang, atau sesuatu, hanya dari tampilannya saja.
Terdengar tak ada yang salah dari pepatah tersebut. Apalagi dengan mengacu pada
teori gunung es, di mana dikatakan
bahwa sisi yang ‘mencuat’ dari seseorang, hanyalah bagian yang sangat kecil, apabila
dibandingkan dengan sisi yang tenggelam atau tidak terlihat darinya. Di sinilah
quote ini menjadi tepat bagi kita,
dalam memandang orang lain secara bijaksana.
Namun
nampaknya quote ini tidak bekerja
dengan baik ke arah sebaliknya, yakni bagi diri kita, dalam posisi sebagai pihak
yang dipandang orang lain. Quote ini
seakan-akan mengajarkan kita untuk cukup egois, dengan berharap agar orang lain
mau menyelidiki diri kita lebih dalam dahulu, baru menilai kita.
Dan lagi,
coba kita bayangkan, kira-kira apakah kita bisa memilih buku untuk dibeli,
apabila tidak ada informasi apapun yang tersedia pada covernya, tidak judul,
tidak pengarangnya, tidak juga ilustrasi pendukung, apalagi sinopsis? Bagaimana
kita bisa membaca isi sebuah buku, kalau ingin membelinya saja tidak?
Maka, di
sinilah menurut saya quote tersebut
mesti diupdate. Kalau sebuah buku
ingin dibaca secara mendalam, ya buatlah cover yang semenarik mungkin agar
pembaca mau membeli. Kalau kita ingin dinilai secara mendalam, ya tunjukkanlah
tampilan yang membuat orang ingin mengenal kita lebih dalam. Tapi yang perlu
diperhatikan, ya kalau kita adalah buku tentang masakan, maka covernya ya harus
berkaitan dengan masakan juga lah. Bukan berarti, demi sekedar menarik pembeli,
kita memasang cover artis-artis Hollywood, atau boyband-boyband K-pop, pada
cover buku masakan tadi.
Kalau ingin
orang mengenal kita, jadilah pribadi yang terbuka, ramah, dan mungkin murah
senyum, sehingga orang nyaman untuk mengobrol dengan kita. Kalau ingin orang
mengenal kita, perhatikanlah kerapian dan kesesuaian berpakaian, apakah cocok
dengan lingkungan saat itu apa tidak, apakah tampilan kita enak dilihat atau
tidak, atau ekstrimnya, apakah kita cukup wangi sehingga orang nyaman
berdekatan dengan kita atau tidak.
Soal
bagaimana berpenampilan, mungkin saya bukanlah pakar atau orang yang cukup update di bidang ini. Tapi setidaknya
saya cukup concern apabila ingin
memilih outfit saya dalam hari itu.
Saya selalu melakukan pertimbangan-pertimbangan seperti:
Ke mana saja dan bertemu siapa sajakah
sayahari ini? Kalau memang hanya ke kampus saja, maka kaos dan celana jeans sudah cukup rapi. Tapi kalau
memang ada keperluan lain, seperti ke acara formal, atau bertemu klien,
pemilihan baju berkerah pun menjadi pertimbangan.
Apakah atasan A sesuai dengan
bawahan B? Keserasian warna dan model menjadi pertimbangan yang cukup penting untuk saya.
Jangan sampai ada warna yang ‘tabrakan’,
yang menjadi distraksi bagi orang lain ketika berkomunikasi dengan saya.
Pakai baju apakah saya
kemarin-kemarin ini? Jangan sampai terjadi pengulangan model atau warna yang
terlalu sering, kecuali kalau memang itu adalah konsep yang ingin dicitrakan.
Kita bukanlah tokoh kartun yang bajunya selalu sama di tiap episode bung!
Di akhir
tulisan, saya hanya ingin menggaris bawahi, bahwa bukan berarti penampilan itu
paling penting. Konten tetaplah lebih penting. Jangan sampai demi mengejar
penampilan, konten lalu diabaikan. Tapi konten yang baik, juga perlu strategi
agar bisa dibaca orang. Dan strategi itulah yang bernama penampilan.
Ya bisa dibilang, penampilan yang mengundang
orang untuk datang, tapi kontenlah yang membuat orang tak bisa pergi.
(tsaah..!)
Jadi, kalau
boleh mengkoreksi quote tersebut, mungkin bunyinya menjadi ‘don’t JUST judge a book by its cover’. Jangan HANYA menilai buku
dari tampilannya saja. Tampilan bukanlah satu-satunya hal yang menentukan judgement, tapi sekaligus bukan juga hal
yang tidak menentukan judgement.
Itu.
* * *
Oh iya, kalo butuh nyari variasi untuk berpenampilan, biar sesuai sama 'konten' yang pingin kita tunjukkin, kayak macem kemeja, sneakers, sampe celana-celana denim gitu, bisa klik kata denimnya (<< yang ini juga bisa diklik). Nanti teknologi yang bernama hyperlink akan membawa kalian ke website online shopping bernama Zalora. Kalopun ga berencana beli, setidaknya bisa nambah referensi buat memadu-padankan outfit dengan liat-liatin displaynya gitu.
Hehehe.
* * *
Yap, tulisan gua kali ini kerjasama dengan Zalora gitu. :)
Jadi, ceritanya gua lagi merapikan folderisasi hardisk gua, terutama yang berkaitan dengan foto-foto. Biar ga garing, gua play-lah musik dari youtube. Gua cari yang album-an gitu, biar ga repot pilih next song-nya apa. Waktu itu yang gua play adalah albumnya Jaco Pastorius, bassist jazz kampret itu.
Nah, trus seperti yang gua keselin dari Youtube, tiba-tiba muncul video advertising, yang menyabotase video musik yang lagi gua play. Bawaannya sih pingin cepet-cepet gua 'skip this video' aja. Tapi pas gua perhatiin iklannya, KOK KREATIF YA!
Jadi gua akan mereview iklan tersebut, berdasarkan pengetahuan perfilman gua.
Ini iklannya, iklan es krim Cornetto, yang bertajuk 'Cornetto Love Stories - Two Sides'.
Keren banget ga sih? :')
Oke, sebagai akademisi, gua akan mencoba menjelaskan kenapa iklan itu gua anggap keren secara akademik bgt.
1. Iklannya termasuk Soft Selling.
Iklan ga secara langsung mengajak penonton untuk mengkonsumsi produknya. Pembuat iklan percaya bahwa penonton sudah tau produk apa yang mereka jual. Jadi mereka hanya perlu membuat nama produk tersebut tetap terngiang-ngiang dalam pikiran bawah sadar penonton. Caranya, buat iklan yang sekreatif dan unik mungkin! Dan iklan ini terbukti berhasil. Terlihat dari lahirnya postingan ini pasca menonton iklan tersebut. Ya, di sini secara tanpa paksaan, gua pun sudah dipengaruhinya untuk ikut mengiklankan iklan ini.
2. Trobosan, trobosan, trobosan!
Karya yang baik, menurut saya, harus memiliki hal yang tidak dimiliki karya lain. Kita bisa menyebutnya trobosan. Dalam iklan ini, setidaknya ada dua trobosan. Yang pertama adalah gaya penceritaan first person point of view yang sangat mendominasi dalam penceritaan iklan tersebut. Belum banyak iklan yang menggunakan gaya penceritaan seperti ini. Terlebih hal itu ditunjang dengan sistem mixing audio stereo yang baik, yang pada iklan itu mereka sebut 3D audio. Penonton dibuat benar-benar merasa menjadi tokoh utama yang sedang mengalami peristiwa demi peristiwa, melalui visual dan audionya.
Yang kedua, yang menurut saya sangat kreatif, adalah setelah kita bisa merasakan menjadi tokoh utama dalam iklan, kita juga diberi kemungkinan untuk berganti tokoh utama. Mereka, dengan kreatifnya, membuat video pararel antara dua sudut pandang yang berbeda, yang menjadi tokoh utama sekaligus pencerita dalam film tersebut. Dan dengan memaksimalkan youtube sebagai media iklan yang memiliki fitur-fitur tertentu, mereka membuat hyperlink yang dapat mengkoneksikan kedua video pararel tersebut sesuai dengan urutan waktu kejadian dalam iklan. Dan itu semua menjadi tidak hanya sekedar 'keren-kerenan' saja, ketika mereka memiliki konsep yang mendasari mereka membuat pararel switching seperti itu. Dalam statement mereka, jelas dikatakan bahwa 'It takes two people to make a love story'. Jadi, konsep ini tak hanya keren, tapi juga berasalan.
3. Ceritanya ringan, tapi memiliki pay off yang tidak klise.
Persoalan mengajak seseorang untuk ikut prom adalah persoalan yang cukup sering muncul dalam cerita bergenre drama. Tapi cara tokoh utama untuk akhirnya mendapatkan hati sang pujaan hati (pengulangan kata 'hati' -.-), itu cukup unik sih, yaitu dengan memberikan headphone, lalu menampilkan dance sambil lipsinc, sambil menghitung iramanya agar sinkron. Dan itu cukup so sweet sih, dalam artian, cukup berhasil dalam genre drama (endingnya tidak membosankan).
4. Style penceritaan yang menarik.
Jika kita perhatikan, pembabakan cerita tersebut disampaikan secara jelas, menggunakan black screen dan title seperti 'Act One', 'Act Two', dll. Hal ini mirip dengan model-model film bergaya Eropa seperti film Royal Tenembaums karya Wes Anderson. Dan ini berkaitan dengan selera gua pribadi sih, yang emang suka sama film-film dengan style seperti itu.
Selain itu, iklan ini mengusung konsep semi musikal. Bisa kita lihat di beberapa adegan, tiba-tiba muncul spot lighting yang ala-ala lighting panggung, yang biasa digunakan dalam film musikal. Tapi yang menarik dari iklan ini, hingar-bingar musikal tersebut disampaikan dengan sangat logis. Di situ digambarkan bahwa itu semua hanya terjadi di dalam benak si tokoh wanita, dengan dipertunjukkannya keadaan yang sesungguhnya terjadi melalui shot objektif (ketika digambarkan si tokoh pria menari-nari begitu saja tanpa musik dengan cukup akwardnya). Dan menurut gua itu sangat cerdas!
Oke, gua rasa itu aja. Di sini gua jadi diingetin lagi kalo kreativitas itu ga boleh mati. Di zaman di mana IDE menjadi penentu kesuksesan seperti sekarang, kenop otak tuh mesti dibuka lebar-lebar gitu. Ga boleh terpaku pada satu hal aja. Dari sini keliatan, kalo iklan aja, yang tujuan utamanya untuk jualan, bisa dibuat dengan se-filmis itu!
Sama, hmm, ya mungkin pesan moralnya, jangan cepet-cepet ngeclose iklan di Youtube kali ya. Hahahaha.
Kali ini, gua ingin berbagi mengenai tugas kuliah Semester 4 kemarin, mata kuliah Musik Film. Dari namanya aja udah jelas, kalo mata kuliah ini menggabungkan dua bidang yang gua sukai banget. Musik dan Film.
Maka dari itulah, ketika kami diberi tugas untuk membuat score (*akan dijelaskan kemudian), jiwa musikalitas dalam berfilm gua pun menggebu-gebu. Dan tugas pun gua jadiin ajang untuk eksperimen, lebih dari sekedar kewanjiban dan nilai.
*walau demikian, dalam praktiknya, gua ga semenggebu-gebu gitu jg sih ngerjaiinnya. tetep gua undur-undur jg gitu hehehe. namanya juga Deadliner!*
Sebenernya, tugas yang diberikan itu ga terlalu rumit. Kami diminta untuk mengambil cuplikan dari sebuah film, sekitar 3 menitan, untuk di-rescore. Oh iya, proses scoringitu mengacu pada peletakan segala bentuk audio ke dalam film sesuai dengan pertimbangan konsep gitu. Dan musik adalah salah satu unsur audionya. Jadi rescore berarti menyusun ulang unsur audio yang ada sesuai dengan konsep yang kita pinginin gitu. Boleh mempertegas konsep yang udah ada, atau ga bikin konsep yang sama sekali baru.
Jadi ya pencapaian mata kuliah ini di semester itu (?) adalah soal ngonsepin dan gimana mewujudkan konsep sih. Belom sampe teknis bikin score-nya. Oleh karena itu kami diperbolehkan buat nempel musik atau audio yang sudah ada.
Tapi yang namanya suka, maka gua nyoba buat bikin-bikin scorenya sendiri gitu. Dan di sinilah gua nyadar bahwa gua masih harus banyak belajar banget sama yang namanya teknologi. Soal software dan hardware buat bikin musik masih buta banget gua!
Akhirnya, dengan berbekal satu-satunya software musik yang gua bisa, SIBELIUS 7 (*software buat bikin partitur), gua coba bikin deh nih tugas dengan menggebu-gebu, tapi santai.. (?)
This is it...
Oke. Sekarang waktunya penjabaran konsep, biar akademis banget gitu.
1. Sebelum saya (*berubah jadi saya-anda gitu, biar makin akademis banget) rescored, musik dalam film pendek 'For The Birds' tersebut hanya berfungsi sebagai musik ilustrasi. Artinya, musik hanya menjadi pengiring, atas pertimbangan estetika saja, tanpa mengangkat suatu aspek objek score tertentu. Sedangkan dalam konsep saya, musik saya gunakan untuk mengangkat atau mempertegas aspek objek score gerak tokoh dan emosi. Dengan demikian, dramatik juga akan meningkat.
2. Secara umum, musik yang saya buat mempertegas pembagian 'struktur 3 babak' dalam film pendek ini: babak introduksi, babak konflik - klimaks, babak antiklimaks. Setiap babak saya tandai dengan tempo, birama, dan irama yang berbeda. Sebagai contoh, pada babak kedua, ketika para burung terganggu oleh kehadiran si Burung Besar, dan mencoba mengusirnya, saya mengubah tempo jadi lebih cepat, dengan birama 5/4, birama yang memiliki ketukan tanggung yang sangat cocok untuk menggambarkan ketergangguan. (((Si Burung Besar))).
3. Selebihnya, saya menggunakan bahasa musik universal dalam menggambarkan gerak. Contohnya, ketika gerakan burung mendekat, atau terbang meninggi, saya menggunakan nada yang meninggi juga. Dan sebaliknya, ketika gerakan burung adalah menjauh, atau turun, atau jatuh, maka nadanya juga akan turun. Model-model ini banyak saya pelajari dari film kartun fenomenal zaman kita kecil: Tom and Jerry!
Oke. Itu dia penjelasan (sok) akademisnya. Semoga dapat menginspirasi..
* * * * *
Ngomong-ngomong, ada yang punya rekomendasi tempat (les / shortcourse / komunitas / yayasan / panti / apalah..) buat belajar software music production gt ga?
Secara umum, CUT. akan
berisi 4 rubrik besar, yakni TULISAN, FOTOGRAFI, GAMBAR, dan VIDEO. Baru nanti
masing-masing rubrik memiliki subnya lagi. Jumlah sub-rubrik pada tiap rubrik belum
lah pasti, tergantung nanti saya kepikiran buat share apa. Hehehe.
Yang jelas, dalam CUT.,
semangat yang dijunjung adalah semangat berbagi. Semua postingan yang akan saya share
memang didesain sedemikian rupa untuk dikonsumsi publik. Maka saya akan sebisa
mungkin menghindari segala bentuk curhat yang
hanya berpusat pada kepuasan diri sendiri, juga bentuk-bentuk ‘tulisan kode’
yang hanya akan dipahami oleh seseorang atau sekelompok orang tertentu, karena
motivasi personal juga (*inilah yang kerap terjadi di blog saya sebelumnya,
yang membuat saya memutuskan untuk melakukan rebranding. Hehehe). Saya akan mencoba semampu saya untuk
menghadirkan bahasa, istilah, topik hinggal lelucon yang bersifat universal,
sehingga diharapkan pembaca dari segala penjuru dapat menangkap hal-hal yang
perlu ditangkap.
Kemudian, soal style
penulisan, saya akan mempertahankan style entertaining,
seperti yang sudah-sudah. Penyebutan diri juga tidak melulu akan ‘saya-anda’,
namun akan disesuaikan dengan bentuk dan konsep tulisan yang akan saya buat.
Saya rasa itu saja.
Anda bisa menskip bagian ini apabila dirasa tidak
cukup penting. ;)
Jika anda – yang dulu sempat
membaca blog saya – melihat ada beberapa perubahan dari blog ini, jawabannya
YA, saya tengah melakukan semacam reconstruction atau rebranding terhadap blog ini. Anda tidak
akan melihat lagi nama ‘Think Out of The Blog’ tersemat dalam header blog saya. Yang anda akan lihat
adalah ‘CUT.’.
Apa itu ‘CUT.’? Mengapa ‘CUT.’?
Sebagai pribadi yang suka
bermain mengotak-atik kata, dan sebagai
anak yang sangat bangga akan namanya sendiri, nama CUT. saya pilih karena
memiliki kesamaan bunyi dengan nama panggilan saya. ‘Kat’. Hahaha. Terdengar sepele ya? Tapi CUT. punya filosofi
yang ga sesepele itu kok. Tenang saja.
Pertama, dalam dunia
perfilman, kata CUT. merupakan kata yang menjadi hak perogratif dari seorang sutradara.
Kata-kata ‘panggil’ lain seperti "slate in", atau "camera?", atau bahkan "action",
adalah hak sutradara yang masih bisa dilimpahkan kepada asisten sutradara. Tapi
kata ‘cut’, berkaitan dengan fungsinya untuk menyudahi/memberhentikan sebuah
proses perekaman shot, hanya merupakan hak sutradara. Sutradara bebas menentukan
kapan ia harus meng-cut adegan,
termasuk di waktu yang tidak semestinya, atas suatu pertimbangan tertentu.
Maka, dari sinilah menurut saya CUT. adalah kata-kata yang merupakan ciri dari
seorang pemimpin. Anggota bisa berpendapat dan memberikan ide. Tapi keputusan akan
memilih ide yang mana tetap ada di tangan pemimpin. Ya CUT. adalah soal keputusan.
Kedua, kata CUT. mengacu pada
memotong/potongan. Dalam film, sebuah film menjadi film karena adanya proses
memotong-sambung adegan-adegan di dalamnya. Tanpa ada konsep yang jelas akan
mana yang perlu dipotong mana yang tidak, penonton tidak akan mendapatkan
pemaknaan dari kisah yang dituturkan tersebut. Maka sesuai dengan pemahaman
itu, blog ini akan saya coba fungsikan sebagai media untuk memotong-motong
pengalaman dan perjalanan saya, untuk disusun kembali sehingga bisa dimaknai
oleh saya, dan mungkin juga oleh anda.
Cukup filosofis kan? :)
Oke, akhirnya saya mengucapkan
selamat datang di CUT.
Semoga blog ini, kalaupun
tidak cukup menginspirasi, cukup meng-entertaint
lah ya..