Saturday, October 17, 2015

Sajak: Sajak Seratus Cepat

Tuwagapatmanamjupanlanluh

Tuwagapatmanamjupanlanluh

Tuwagapatmanamjupanlanluh

Tuwagapatmanamjupanlanluh

Tuwagapatmanamjupanlanluh

Tuwagapatmanamjupanlanluh

Tuwagapatmanamjupanlanluh

Tuwagapatmanamjupanlanluh

Tuwagapatmanamjupanlanluh

Tuwagapatmanamjupanlanluh

Udah belom?

Kosan, 17 Oktober

Friday, October 16, 2015

Puisi: Bertemu

Kupu bertemu kupu
Jadilah kupu – kupu

Lumba bertemu lumba
Jadilah lumba – lumba

Kura bertemu kura
Jadilah kura – kura

Laba bertemu laba
Jadilah laba – laba

Aku bertemu kamu
Lalu jadi apa?

Kosan, 16 Oktober

Wednesday, October 14, 2015

Puisi: Puisi?

Aku ingin menulis puisi
Tapi aku tidak suka:
Kata-kata puitis
Yang cenderung terdengar manis
Seperi kue-kue pastri
Yang memang enak sih
Tapi gampang eneg untuk dimakan terlalu banyak

Aku lebih suka makanan gurih
Seperti Lasagna
Bukan Rainbow Cake
Aku suka makan Rainbow Cake juga sih
Hanya kalau tinggal makan
Tidak beli, tidak buat
Ya, aku ternyata suka kata ‘makan’nya

Aku ingin menulis puisi
Dan,
Aku suka ketika kata berujung rima
Memiliki ujung yang sama
Yang selalu membuatku terkesima
Bagaimana seorang penulis memiliki begitu banyak referensi kata
Untuk bisa ditata
Menjadi sebuah sonata

Tapi membuat puisi berima itu susah
Seringkali membuat resah
Karna terkadang kata terlalu dipaksakan
Sehingga makna jadi terabaikan
Ah, ikan!

Aku ingin menulis puisi
Bukan untuk gaya-gayaan
Biar terlihat seperti seniman
Atau agar terlihat kritis
Dalam melihat dunia yang serba krisis

Aku ingin menulis puisi
Karena begitu pulalah dalam kalimat sebaliknya
Puisi ingin ditulis oleh aku
Puisi dan aku sama-sama saling ingin
Untuk ditulis dan menulis

Aku ingin menulis puisi
Eh,
Atau ini aku sudah menulis puisi ya?
Apakah kau sudah merasa kutulis, puisi?

Friday, October 9, 2015

Cerpen: Neraka Itu Gak Ada!

“Neraka itu gak ada!”

“Ada! Orang-orang jahat nanti masuk ke sana, gak ke surga.”

“Tapi kan Tuhan Maha Baik, dia pasti bakal ngampunin orang-orang yang jahat tau..”

“Justru itu Tuhan bikin neraka biar orang-orang jadi baik, ga jadi jahat. Orang-orang jadi takut buat jadi jahat!”

“Berarti orang-orang cuman berbuat baik gara-gara takut dong kalo gitu, takut masuk ke neraka..”

“Emang gara-gara apalagi? Emang kenapa kamu berbuat baik?”

“Aku? Aku ga berbuat baik biar ga masuk neraka tau. Neraka itu ga ada.”

“Lah terus gara-gara apa? Gara-gara mau masuk surga juga kan?”

“Semua orang pasti masuk surga. Jadi bukan gara-gara itu aku berbuat baik.”

“Terus?”

“Aku berbuat baik, gara-gara aku tau, dijahatin itu ga enak. Dipukul itu sakit, makanya aku ga mukul. Diperhatiin, disayang, itu bikin bahagia. Aku pingin bikin orang bahagia juga.”

“Kalo kamu dijahatin?”

“Kalo aku dijahatin?”

“Iya, kalo kamu dijahatin, kamu ngelawan?”

“Nggak. Biar Tuhan yang bales.”

“Nah itu dia makanya Tuhan bikin neraka, buat bales orang-orang yang jahat tadi..”

“Tapi Tuhan Maha Pengampun!”

“Lah gimana sih? Tadi katanya biar Tuhan yang bales…”

“Iya. Tapi Tuhan bales ga dengan ngejahatin orang yang jahat tadi. Dia bales dengan nunjukin kebaikan yang lebih lebih lagi, sampe mereka sadar dan nyesel udah memilih jadi jahat. Dan aku belom bisa kayak Tuhan.”

“Maksudnya?”

“Aku belom bisa ngebaikin orang yang jahat biar dia juga berubah jadi baik, kayak Tuhan. Tapi aku juga ga boleh ngejahatin mereka balik. Makanya, biar Tuhan aja yang bales.”

“Hmm… Aku percaya kalo Tuhan Maha Baik. Tapi aku juga tetep percaya kalo neraka itu ada!”

“Nggak, neraka itu gak ada.”

“Coba bayangin deh, kalo neraka itu ga ada, nanti kalo kamu mati, terus ke surga, kamu disatuin di tempat yang sama dengan orang-orang jahat tadi dong. Ga adil lah!”

“Sekarang kita juga udah disatuin di tempat yang sama dengan orang-orang jahat. Di dunia. Dunia juga ga adil dong?”

“Tapi dunia ini kan cuman dunia sementara. Kita nantinya akan mati, dan menuju dunia abadi. Makanya di sinilah kita harus berbuat baik sebanyak-banyaknya biar bisa masuk ke dunia kebahagiaan abadi, di surga. Bukan malah masuk ke neraka.”

“Lah yaudah dong. Kan surga emang ada. Neraka yang ga ada. Ya kita nanti bakal masuk ke surga, kayak yang kamu, dan aku, pinginin. Kenapa masih harus repot mikirin orang jahat nanti ke mana sih?”

“Ya tapi ga adil dong!”

“Ga adil gimana lagi sih?”

“Ya ga adil lah! Kita udah susah-susah berbuat baik biar masuk surga, eh yang enak-enakan berbuat jahat masuk surga juga!”

“Oh..  jadi berbuat baik itu susah? Berbuat jahat itu enak?”

Kemudian ibuku akhirnya datang menjemputku. Dan dengan demikian berakhirlah pembicaraan kami, pembicaraan dua anak kelas 3 SD yang sedang menunggu dijemput orang tuanya. 
Dalam perjalanan pulang aku bertanya kepada ibuku,

“Buk, neraka itu ga ada kan?”

Ibuku hanya tersenyum.



Rumah, 9 Oktober 2015
*  *  *
Sedikit cerita mengenai latar belakang cerita ini:
Ketika saya masih sekitar kelas 3 SD, seperti pada latar cerita, saya memang tidak memiliki pemahaman sama sekali tentang keberadaan neraka. Saya terlahir dalam keluarga yang memiliki budaya mendidik yang rasional berbasis sebab-akibat, bukan yang menggunakan metode menakut-nakuti dengan mitos atau isu tertentu. Maka, pemahaman akan neraka sebagai hukuman kepada orang yang jahat, waktu itu tak ada sama sekali di pikiran saya. Dan percakapan ini benar-benar terjadi ketika saya menunggu dijemput ibu saya kala itu, dan mengobrol ngalor-ngidul dengan teman saya yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Tentu saja dialognya tidak persis seperti ini. Tapi isu yang diangkat sama: bahwa saya tidak percaya kalau neraka itu ada. Dan yang menarik adalah, sekali lagi, obrolan sefilosofis ini lahir dari dua anak kelas 3 SD yang menunggu dijemput orang tuanya. Sulit dibayangkan.