Monday, April 11, 2016

PERMENUNGAN: Agama Manakah yang Benar-Benar Benar?

Kalau semua agama merasa membawa umatnya ke jalan yg benar, lalu agama manakah yang benar-benar benar?

*  *  *
Hmm.
Sebuah kalimat pembuka yang cukup 'berbahaya'. Hahaha.

Ya, tulisan ini lahir karena saya sering kali gemas melihat orang-orang berdebat soal agama, dan ujung-ujungnya mencap agama lain sebagai kesalahan. Merasa agama sendiri sebagai kebenaran itu baik, dan memang harus begitu agar kita benar-benar percaya. Tapi mencap yang lain sebagai kesalahan kok rasa-rasanya sedikit kurang tepat ya?

Oke. Tenang saja.
Pada tulisan kali ini saya tidak akan membandingkan, atau bahkan sekedar menyebutkan satu agama pun.
Saya hanya akan sekedar mengandai-andai.

Oke, jadi begini.
Bayangkan ada sepasang orang tua. 
Mereka mempunyai 3 anak misalnya.
Tentu mereka mencintai ketiga anak mereka.
Dan karena mereka mencintai anak mereka, tentu mereka berusaha sebisa mungkin mendukung anak-anaknya tersebut baik secara kebutuhan jasmani maupun rohani.
Tentu saja dengan demikian anak-anak mereka juga mencintai sang orang tua tersebut.

Pada waktu mereka masih kecil, semua anak terlihat sama. Sama-sama lucu, sama-sama menggemaskan, sama-sama cerdas, dan semua taat pada orang tua mereka.
Hal ini tentu saja membuat sang orang tua bangga dan bersyukur memiliki anak seperti mereka. Hal tersebut diwujudkan dalam cinta sang orang tua kepada anak. Segala yang dirasa dibutuhkan oleh anak, dipenuhi.

Namun seiring bertambahnya usia, yang tentu berpengaruh kepada perkembangan mental anak, ternyata anak-anak tersebut memiliki sifat, bakat, dan kecenderungannya masing-masing. Apalagi dengan bergaulnya sang anak kepada lingkungan yang berbeda-beda, itu membuat tiap-tiap anak mulai menunjukkan perbedaan karakter.

Kita sebut saja indikator pembanding di antara mereka adalah: nilai di sekolah, kemampuan mengatur uang jajan, komunikasi dengan orang tua, dan kemampuan bersosialisasi.

Anak pertama, yang paling tua, ternyata tumbuh menjadi anak yang memiliki poin yang bagus dalam ketiga poin pertama. Ia adalah anak yang rajin belajar, pandai mengatur keuangan, dan memiliki komunikasi yg baik dengan orang tua mereka. Namun ia kurang dalam bersosialisasi dengan teman-temannya.

Menyikapi karakter anak pertama tersebut, sang orang tua pun cukup membebaskan si anak melakukan yang ia mau, karena mereka tau bahwa si anak tidak akan melalaikan sekolahnya, dan lagi selalu jelas si anak pergi ke mana, karena komunikasi di antara mereka yang lancar. Untuk keuangan, si anak diberikan uang jajan setiap bulan. Namun di sisi lain, sang orang tua selalu menyuruh si anak agar sering-sering bermain di luar, dibandingkan di dalam rumah saja. Maka tak heran sesekali sang orang tua memberikan si anak tiket nonton, atau uang jajan lebih untuk pergi bersama teman-temannya.

Anak kedua, anak tengah, ternyata sedikit berbeda dengan anak pertama. Ia memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik, sekaligus komunikasi yang juga lancar kepada sang orang tua. Namun di sisi lain ternyata kemampuan sosialisasi yang baik tersebut membuatnya sering lupa belajar juga kurang pandai mengatur uang jajan yang diberikan. 

Menyikapi karakter anak kedua tersebut, sang orang tua lalu membuat aturan mengenai jam belajar wajib di rumah untuknya, juga memberikan uang jajan kepada sang anak tiap dua hari sekali. Namun selebihnya, sang orang tua tetap memberikan kebebasan bagi si anak untuk pergi ke mana saja, dengan siapa saja, selama tidak memotong waktu wajib belajar yang sudah ditetapkan. Hal ini karena komunikasi si anak tetap lancar kepada sang orang tua.

Anak ketiga, anak bungsu, adalah anak yang juga memiliki kemampuan bersosial yang tinggi, namun tetap memiliki nilai yang bagus di sekolah. Hanya saja untuk urusan keuangan, ia sangatlah buruk. Juga soal komunikasi kepada orang tua, ia bisa menghilang sampai malam tanpa kabar yang jelas.

Menyikapi karakter anak ketiga tersebut, sang orang tua pun memberikan uang jajan si anak tiap hari sekali, dan juga mewajibkan si anak untuk memberikan kabar tiap tiga jam sekali. Namun urusan belajar anak, semua sudah diserahkan kepada si anak untuk mengaturnya menurut caranya sendiri. Maka selama si anak memberikan kabar setiap tiga jam sekali tersebut, si anak bebas melakukan aktivitas apa saja. Sama sekali tidak ada kecemasan soal apakah si anak diterima di lingkungannya apa tidak.

Kebijakan tersebut dijalankan kepada masing-masing anak tanpa saling tahu satu sama lain. Semua berjalan baik.

Hingga suatu kali mereka baru menyadari bahwa ada kebijakan yang berbeda di antara mereka bertiga. Maka berdebatlah mereka..

Anak pertama berseru,"Kata papa mama, kita tuh harus sering-sering main di luar, jangan di rumah terus!"
Anak kedua membantah, "Tidak! Kata papa mama kita harus tetap kembali ke rumah untuk belajar. Jam 6 - jam 9. Tidak boleh tidak, harus belajar!"
Anak ketiga menyangkal, "Tidak! Kata papa mama kita boleh ke mana saja, asal memberikan kabar tiap tiga jam sekali! Soal belajar mah terserah kita!"

Lalu siapakah yang benar di antara mereka? 
Siapakah yang salah? 
Siapakah yang benar-benar benar?


Ya,
Semua yang mereka serukan benar-benar kata orang tua mereka.
Semua aturan yang mereka jalani tidak ada yang salah, karena benar-benar dipertimbangkan oleh sang orang tua.
Hanya saja, mereka pikir sang orang tua berkata kepada 'kita', bukan 'aku'.
Itu saja soalnya.

Selamat merenungkan..