Friday, August 14, 2015

Antitesis: If we cannot judge a book by its cover, then how can we?

Orang yang masih berpegang pada pepatah “don’t judge a book by its cover” adalah orang yang, pasti, tidak pernah benar-benar membeli buku.

Kali ini saya akan memberi label antitesis dalam tulisan saya. Dalam label antitesis ini, saya akan mencoba membedah lagi tesis / statement / teori / bahkan quote yang sudah ada, dari sudut pandang yang lain. Apakah teori tersebut masih relevan? Apakah teori tersebut benar-benar bisa dilandaskan dalam dunia yang real?

Nah, seperti yang tertera pada kalimat pembuka, saya ingin mengkritisi perihal pepatah / quote: “don’t judge a book by its cover”. Dalam aplikasinya, quote ini ingin mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh menilai seseorang, atau sesuatu, hanya dari tampilannya saja. Terdengar tak ada yang salah dari pepatah tersebut. Apalagi dengan mengacu pada teori gunung es, di mana dikatakan bahwa sisi yang ‘mencuat’ dari seseorang, hanyalah bagian yang sangat kecil, apabila dibandingkan dengan sisi yang tenggelam atau tidak terlihat darinya. Di sinilah quote ini menjadi tepat bagi kita, dalam memandang orang lain secara bijaksana.

Namun nampaknya quote ini tidak bekerja dengan baik ke arah sebaliknya, yakni bagi diri kita, dalam posisi sebagai pihak yang dipandang orang lain. Quote ini seakan-akan mengajarkan kita untuk cukup egois, dengan berharap agar orang lain mau menyelidiki diri kita lebih dalam dahulu, baru menilai kita.

Dan lagi, coba kita bayangkan, kira-kira apakah kita bisa memilih buku untuk dibeli, apabila tidak ada informasi apapun yang tersedia pada covernya, tidak judul, tidak pengarangnya, tidak juga ilustrasi pendukung, apalagi sinopsis? Bagaimana kita bisa membaca isi sebuah buku, kalau ingin membelinya saja tidak?

Maka, di sinilah menurut saya quote tersebut mesti diupdate. Kalau sebuah buku ingin dibaca secara mendalam, ya buatlah cover yang semenarik mungkin agar pembaca mau membeli. Kalau kita ingin dinilai secara mendalam, ya tunjukkanlah tampilan yang membuat orang ingin mengenal kita lebih dalam. Tapi yang perlu diperhatikan, ya kalau kita adalah buku tentang masakan, maka covernya ya harus berkaitan dengan masakan juga lah. Bukan berarti, demi sekedar menarik pembeli, kita memasang cover artis-artis Hollywood, atau boyband-boyband K-pop, pada cover buku masakan tadi.

Kalau ingin orang mengenal kita, jadilah pribadi yang terbuka, ramah, dan mungkin murah senyum, sehingga orang nyaman untuk mengobrol dengan kita. Kalau ingin orang mengenal kita, perhatikanlah kerapian dan kesesuaian berpakaian, apakah cocok dengan lingkungan saat itu apa tidak, apakah tampilan kita enak dilihat atau tidak, atau ekstrimnya, apakah kita cukup wangi sehingga orang nyaman berdekatan dengan kita atau tidak.

Soal bagaimana berpenampilan, mungkin saya bukanlah pakar atau orang yang cukup update di bidang ini. Tapi setidaknya saya cukup concern apabila ingin memilih outfit saya dalam hari itu. Saya selalu melakukan pertimbangan-pertimbangan seperti:
  1. Ke mana saja dan bertemu siapa sajakah saya hari ini? Kalau memang hanya ke kampus saja, maka kaos dan celana jeans sudah cukup rapi. Tapi kalau memang ada keperluan lain, seperti ke acara formal, atau bertemu klien, pemilihan baju berkerah pun menjadi pertimbangan.
  2. Apakah atasan A sesuai dengan bawahan B? Keserasian warna dan model menjadi pertimbangan yang cukup penting untuk saya. Jangan sampai ada warna yang ‘tabrakan’,  yang menjadi distraksi bagi orang lain ketika berkomunikasi dengan saya.
  3. Pakai baju apakah saya kemarin-kemarin ini? Jangan sampai terjadi pengulangan model atau warna yang terlalu sering, kecuali kalau memang itu adalah konsep yang ingin dicitrakan. Kita bukanlah tokoh kartun yang bajunya selalu sama di tiap episode bung!


Di akhir tulisan, saya hanya ingin menggaris bawahi, bahwa bukan berarti penampilan itu paling penting. Konten tetaplah lebih penting. Jangan sampai demi mengejar penampilan, konten lalu diabaikan. Tapi konten yang baik, juga perlu strategi agar bisa dibaca orang. Dan strategi itulah yang bernama penampilan.

Ya bisa dibilang, penampilan yang mengundang orang untuk datang, tapi kontenlah yang membuat orang tak bisa pergi.
(tsaah..!)

Jadi, kalau boleh mengkoreksi quote tersebut, mungkin bunyinya menjadi ‘don’t JUST judge a book by its cover’. Jangan HANYA menilai buku dari tampilannya saja. Tampilan bukanlah satu-satunya hal yang menentukan judgement, tapi sekaligus bukan juga hal yang tidak menentukan judgement.

Itu.

*   *   *  

Oh iya, kalo butuh nyari variasi untuk berpenampilan, biar sesuai sama 'konten' yang pingin kita tunjukkin, kayak macem kemeja, sneakers, sampe celana-celana denim gitu, bisa klik kata denimnya (<< yang ini juga bisa diklik). Nanti teknologi yang bernama hyperlink akan membawa kalian ke website online shopping bernama Zalora. Kalopun ga berencana beli, setidaknya bisa nambah referensi buat memadu-padankan outfit dengan liat-liatin displaynya gitu. 

Hehehe.

*   *   * 

Yap, tulisan gua kali ini kerjasama dengan Zalora gitu. :)

No comments:

Post a Comment