Orang yang masih berpegang pada pepatah “don’t judge a book by its cover” adalah orang yang, pasti, tidak pernah
benar-benar membeli buku.
Kali ini
saya akan memberi label antitesis dalam tulisan saya. Dalam label antitesis ini,
saya akan mencoba membedah lagi tesis / statement
/ teori / bahkan quote yang sudah ada,
dari sudut pandang yang lain. Apakah teori tersebut masih relevan? Apakah teori
tersebut benar-benar bisa dilandaskan dalam dunia yang real?
Nah, seperti
yang tertera pada kalimat pembuka, saya ingin mengkritisi perihal pepatah / quote: “don’t judge a book by its cover”. Dalam aplikasinya, quote ini ingin mengingatkan kita bahwa
kita tidak boleh menilai seseorang, atau sesuatu, hanya dari tampilannya saja.
Terdengar tak ada yang salah dari pepatah tersebut. Apalagi dengan mengacu pada
teori gunung es, di mana dikatakan
bahwa sisi yang ‘mencuat’ dari seseorang, hanyalah bagian yang sangat kecil, apabila
dibandingkan dengan sisi yang tenggelam atau tidak terlihat darinya. Di sinilah
quote ini menjadi tepat bagi kita,
dalam memandang orang lain secara bijaksana.
Namun
nampaknya quote ini tidak bekerja
dengan baik ke arah sebaliknya, yakni bagi diri kita, dalam posisi sebagai pihak
yang dipandang orang lain. Quote ini
seakan-akan mengajarkan kita untuk cukup egois, dengan berharap agar orang lain
mau menyelidiki diri kita lebih dalam dahulu, baru menilai kita.
Dan lagi,
coba kita bayangkan, kira-kira apakah kita bisa memilih buku untuk dibeli,
apabila tidak ada informasi apapun yang tersedia pada covernya, tidak judul,
tidak pengarangnya, tidak juga ilustrasi pendukung, apalagi sinopsis? Bagaimana
kita bisa membaca isi sebuah buku, kalau ingin membelinya saja tidak?
Maka, di
sinilah menurut saya quote tersebut
mesti diupdate. Kalau sebuah buku
ingin dibaca secara mendalam, ya buatlah cover yang semenarik mungkin agar
pembaca mau membeli. Kalau kita ingin dinilai secara mendalam, ya tunjukkanlah
tampilan yang membuat orang ingin mengenal kita lebih dalam. Tapi yang perlu
diperhatikan, ya kalau kita adalah buku tentang masakan, maka covernya ya harus
berkaitan dengan masakan juga lah. Bukan berarti, demi sekedar menarik pembeli,
kita memasang cover artis-artis Hollywood, atau boyband-boyband K-pop, pada
cover buku masakan tadi.
Kalau ingin
orang mengenal kita, jadilah pribadi yang terbuka, ramah, dan mungkin murah
senyum, sehingga orang nyaman untuk mengobrol dengan kita. Kalau ingin orang
mengenal kita, perhatikanlah kerapian dan kesesuaian berpakaian, apakah cocok
dengan lingkungan saat itu apa tidak, apakah tampilan kita enak dilihat atau
tidak, atau ekstrimnya, apakah kita cukup wangi sehingga orang nyaman
berdekatan dengan kita atau tidak.
Soal
bagaimana berpenampilan, mungkin saya bukanlah pakar atau orang yang cukup update di bidang ini. Tapi setidaknya
saya cukup concern apabila ingin
memilih outfit saya dalam hari itu.
Saya selalu melakukan pertimbangan-pertimbangan seperti:
- Ke mana saja dan bertemu siapa sajakah saya hari ini? Kalau memang hanya ke kampus saja, maka kaos dan celana jeans sudah cukup rapi. Tapi kalau memang ada keperluan lain, seperti ke acara formal, atau bertemu klien, pemilihan baju berkerah pun menjadi pertimbangan.
- Apakah atasan A sesuai dengan bawahan B? Keserasian warna dan model menjadi pertimbangan yang cukup penting untuk saya. Jangan sampai ada warna yang ‘tabrakan’, yang menjadi distraksi bagi orang lain ketika berkomunikasi dengan saya.
- Pakai baju apakah saya kemarin-kemarin ini? Jangan sampai terjadi pengulangan model atau warna yang terlalu sering, kecuali kalau memang itu adalah konsep yang ingin dicitrakan. Kita bukanlah tokoh kartun yang bajunya selalu sama di tiap episode bung!
Di akhir
tulisan, saya hanya ingin menggaris bawahi, bahwa bukan berarti penampilan itu
paling penting. Konten tetaplah lebih penting. Jangan sampai demi mengejar
penampilan, konten lalu diabaikan. Tapi konten yang baik, juga perlu strategi
agar bisa dibaca orang. Dan strategi itulah yang bernama penampilan.
Ya bisa dibilang, penampilan yang mengundang orang untuk datang, tapi kontenlah yang membuat orang tak bisa pergi.
(tsaah..!)
Jadi, kalau
boleh mengkoreksi quote tersebut, mungkin bunyinya menjadi ‘don’t JUST judge a book by its cover’. Jangan HANYA menilai buku
dari tampilannya saja. Tampilan bukanlah satu-satunya hal yang menentukan judgement, tapi sekaligus bukan juga hal
yang tidak menentukan judgement.
Itu.
* * *
Oh iya, kalo butuh nyari variasi untuk berpenampilan, biar sesuai sama 'konten' yang pingin kita tunjukkin, kayak macem kemeja, sneakers, sampe celana-celana denim gitu, bisa klik kata denimnya (<< yang ini juga bisa diklik). Nanti teknologi yang bernama hyperlink akan membawa kalian ke website online shopping bernama Zalora. Kalopun ga berencana beli, setidaknya bisa nambah referensi buat memadu-padankan outfit dengan liat-liatin displaynya gitu.
Hehehe.
* * *
Yap, tulisan gua kali ini kerjasama dengan Zalora gitu. :)
No comments:
Post a Comment