Wednesday, August 19, 2015

Cerpen: Prestige

23.45
Adi dan anak buahnya sudah bersiap di posisinya masing-masing. Menurut perhitungannya, truk pembawa berbagai perhiasan batu kuno, yang tentu saja bernilai tinggi, akan lewat sepuluh menit lagi. Ya, beberapa hari lagi akan diadakan pelelangan.

23.54
Truk datang. Lebih cepat 1 menit. Dengan sigap Adi mengatur ritme perampokan agar tetap sesuai pada rencana. Empat orang pada ‘pengalih perhatian’, empat orang ‘pembobolan’, dan dirinya pada ‘penadah’. Semua berlalu cepat, namun senyap.

23.59
Lima menit, sesuai rencana. Muatan berharga tersebut sudah di tangan Adi dengan tanpa disadari oleh sang supir. Adi tersenyum puas.

07.00, esoknya
Adi menyalakan televisi, mencari berita tentang perampokan yang ia lakukan semalam. Memang baginya merampok adalah soal prestige, tanpa kekerasan fisik, tanpa darah. Namun mendadak ia marah dan berteriak, “Bangsat! Media goblok!”.
Terlihat di layar, tajuk berita kala itu, “Kembali Terjadi, Kini Sebuah Truk Pembawa Perhiasan Kunolah yang Dibegal”.

-Parikesit-

 Cempaka Baru, 12 Maret 2015

*    *    *  

Cerpen tersebut dibuat ketika waktu itu perbegalan menjadi hal yang paling seksi untuk berada di panggung media di Indonesia. "Bad thing is a good thing" nampaknya dipegang teguh oleh para awak media tersebut, entah atas dasar pengalihan isu, atau murni karena tak ada stok berita lagi. Kata 'begal' hampir pasti bisa dijumpai di setiap tayangan berita atau surat kabar kala itu. Sedikit - sedikit begal. Sedikit - sedikit begal. Begal kok cuman sedikit? Eaaaa.

No comments:

Post a Comment