Satu hal yang harus
dihindari dalam membuat film, apapun itu, adalah menampilkan hal-hal yang
klise. Klise di sini berarti menggunakan hal-hal yang menjadi stereotype umum. Contohnya, stereotype bahwa ibu tiri itu jahat,
malam itu ditandai dengan shot bulan, menggunakan pola penceritaan “ternyata
hanya mimpi”, dll. Hal-hal tersebut patut dihindari karena sebagus apapun
penggarapannya, film klise hanya akan stuck
pada level “menarik ditonton”, tidak akan sampai pada level “patut diingat”.
Dan secara umum, penyebab klise ada dua :
Yang pertama, kurangnya kreativitas dari si pembuat. Kurangnya
kreativitas sesungguhnya disebabkan karena kurangnya referensi dalam bagasi
otak kita. Hal ini dapat diatasi dengan meningkatkan waktu untuk membaca dan
menonton film, berbagai genre.
Yang kedua, dan yang
cukup terutama, adalah adanya miskonsepsi masyarakat akan apa itu film
pendek. Masyarakat umum, khususnya di Indonesia, lahir dalam referensi
berupa film panjang ataupun serial. Sehingga masyarakat Indonesia kebanyakan
menggunakan acuan tersebut dalam membuat film pendek. Yang terjadi adalah film
pendek yang dihasilkan berupa film panjang yang durasinya dipendekkan. Cerita
yang dibuat cenderung terlalu kompleks, tapi kurang mendalam. Akibatnya film
pendek yang dihasilkan pun kurang bermakna baik secara keseluruhan, maupun shot by shot.
Struktur dalam film
pendek, secara general dapat dibagi 2, yakni joke’s structure dan struktur
3 babak. Pada Joke’s Structure, struktur yang dipakai mirip dengan struktur
yang dipakai dalam menyampaikan materi stand up comedy, yakni build up and pay off. Pada build up, permasalah dibangun dan dikembangkan,
sehingga penonton cukup bertanya-tanya tentang bagaimana ending film tersebut.
Sedangkan pada pay off, penantian penonton tersebut dibayar dengan sebuah
ending yang layak ditunggu.
Sedangkan pada struktur
tiga babak, sesungguhnya struktur ini mirip yang digunakan pada film panjang
dengan Struktur Hollywood Klasik. Namun yang perlu diperhatikan adalah dalam
film pendek, konflik yang disajikan cukuplah satu buah saja. Penonton tidak
usah dipusingkan dengan hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan konflik
tersebut, seperti siapa nama tokoh utama tersebut, bagaimana latar belakangnya,
dll. Penonton dapat langsung dibawa pada bagian pengenalan masalah.
Dan pada
akhirnya, pilihan ingin menggunakan struktur tiga babak atau joke’s structure
kembali pada selera pribadi. Tak ada yang lebih baik, selama keduanya dikemas
dengan tidak klise. Seperti kata mas Armantono, dosen Skenario FFTV IKJ, “Manusia digigit anjing itu klise. Anjing digigit manusia baru tidak
klise!”
*P.S. Ini adalah tugas mata kuliah penyutradaraan. Disuruh merangkum dan menulis ulang diktat mengengai film pendek gitu. Trus dipost aja deh, buat menuh-menuhin blog.*
*P.S. Ini adalah tugas mata kuliah penyutradaraan. Disuruh merangkum dan menulis ulang diktat mengengai film pendek gitu. Trus dipost aja deh, buat menuh-menuhin blog.*
No comments:
Post a Comment